Jumat, 03 Juni 2016

TAFSIR AL-FATIHAH

A.    Tafsir Al-Fatihah
1.      Lafad dan Arti Surat Al-Fatihah
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ١ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣  مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ٤ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ٥ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧
Artinya :
1)      Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
2)      Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam
3)      Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
4)      Yang menguasai di Hari Pembalasan
5)      Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan
6)      Tunjukilah kami jalan yang lurus
7)      (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat
2.      Ayat Pertama
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ١
“Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih, maha penyayang”.
Digunakan untuk membuka al-Qur’an secara umum, dan surat-suratnya setelah itu. Ayat mulia ini menunjukkan agar kita membuka semua perkataan dan amalan baik dengannya.
(Al-Ism) sesuatu yang menunjukkan zat atau makna dan lafad Allah: pengetahuan tentang zat yang wajib keberadaanya, dia adalah nama Allah SWT paling mulia dan paling konprensif. Dan apa-apa selainnya merupakan sifat-sifat yang disandarkan kepada-Nya.[1]
Lafad الله adalah nama-Nya yang paling agung dan mencakup semua sikap (Al-Kurtubi). Sebuah pendapat mengatakan nama Allah tidak terbentuk dari kata lain (nonderivatif). Pendapat lain mengatakan bahwa Ia terbentuk dari kata Illah (sesembahan) yang huruf hamzahnya dihilangkan lalu dibubuhi dengan partikel definisi al; atau dari kata aliha (bingung), karena apabila seseorang hamba memikirkan sifat-sifatnya maka ia akan menjadi bingung; atau dari kata wallahu (cinta, kesetiaan, dan kebeperpihakan) yang huruf wawunya diganti dengan hamzah, karena setiap makhluk pasti cenderung kepada-Nya.[2]
Lafald ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِmerupakan dua sifat Allah SWT yang mengandung makna (indah), yaitu bahwa Ar-rahman sifat Allah SWT dan Ar-Rahim menunjukkan keterkaitannya dengan almarhum, seakan-akan yang pertama adalah sifat menunjukkan bahwa Ar-Rahman adalah sifat Dzat Allah, kedua adalah pekerjaan yang menunjukkan bahwa Dia menyayangi makhluk-Nya dengan rahmat-Nya.
Kata Ar-Rahman dan Ar-Rahim adalah dua kata sifat yang terbentuk dari kata rahmah ynag artinya kasih sayang. Kata Ar-Rahman berarti yang sangat besar rahmat-Nya sedangkan kata Ar-Rahim berarti yang langgeng rahmat-Nya. Kata Ar-Rahman berarti yang rahmat-Nya meliputi semua makhluk terkait rezeki dan kebutuhan mereka, baik mukmin atau pun kafir. Ar-Rahim berarti yang rahmat-Nya khusus bagi orang-orang mukmin.[3]


3.      Ayat Kedua
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”
Lafad ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ (segala puji bagi Allah) merupakan kalimat berita yang digunakan untuk memuji Allah karena Dialah yang memiliki segala bentuk pujian dari makhluk-Nya karena Dialah yang memiliki nama-nama yang baik dan indah, serta sifat-sifat yang mulia.
Lafadرَبِّ artinya adalah yang berkuasa. Kata rabbi terbentuk dari kata tarbiyyah yang berarti mengadakan sesuatu setahap demi setahap hingga mencapai batas sempurna.[4]Rabb dapat berarti mencipta, mengatur, memperbaiki, melindungi, yang melaksanakan, menghidupkan dan juga mematikan.
Lafadٱلۡعَٰلَمِينَmerupakan ism al-jinsi yang tidak memiliki bentuk tunggal. Maknanya mencakup segala sesuatu selain Allah. Akar maknanya adalah tanda. Alam semesta disebut demikian karena merupakan tanda akan keberadaan penciptanya.[5] Menurut Qatadah, bahwa Al-Alaminadalah semua makhluk, segala yang ada selain Allah.

4.      Ayat ke-3
ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣
“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”
Merupakan dua sifat yang dimiliki Allah, dan dua nama yang memiliki makna yang indah diantara nama-nama yang indah (Asmaul Husna) yang dimiliki oleh Allah. Ar-Rahman lebih dari ar-rahim, karena Ar-Rahman adalah memiliki kasih sayang untuk semua makhluk-Nya didunia tanpa terkecuali. Sedangkan Ar-Rahim, sifat kasih sayang Allah yang diberikan oleh Allah hanya kepada oarang-orang beriman di akhirat kelak.
Dikatakan dalam Tafsir Al Manar, ringkasnya: penyebab diulang lagi penyebutannya telah jelas, bahwa tarbiyah Allah terhadap semesta alam bukan kebutuhan-Nya terhadap mereka, seperti memberi  manfaat dan menolak mudharat. Ini semua disebabkan keumuman rahmat-Nya dan cakupan ihsan-Nya.[6]

5.      Ayat Keempat
مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ٤
“Yang menguasai di Hari Pembalasan”
Maha berkuasa-Nya Allah pada hari kiamat, bukan berarti Dia tidak berkuasa pada hari-hari ini. Dia adalah Tuhan bagi seluruh alam semesta dan dialah yang berkuasa di dunia maupun di akhirat. Hanya dikhususkan kekuasaan-Nya pada hari pembalasan karena pada hari tersebut hanya Allah lah yang berkuasa, tidak ada seorang pun yang dapat berbuat apa-apa kecuali orang-orang yang diberi izin oleh Allah.
يَوۡمِ ٱلدِّينِ(Yaumiddin), memiliki makna yang tepat diantaranya hari perhitungan dan hari pembalasan. Secara umum diartikan sebagai hari pembalasan. Apa yang dimaksud dengan hari pembalasan ini sesungguhnya telah dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya pada ayat lain yakni surat Al-infithar ayat 14 sampai ayat 19, yang berbunyi:
وَإِنَّ ٱلۡفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٖ ١٤  يَصۡلَوۡنَهَا يَوۡمَ ٱلدِّينِ ١٥ وَمَا هُمۡ عَنۡهَا بِغَآئِبِينَ ١٦  وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ ١٧ ثُمَّ مَآ أَدۡرَىٰكَ مَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ ١٨  يَوۡمَ لَا تَمۡلِكُ نَفۡسٞ لِّنَفۡسٖ شَيۡ‍ٔٗاۖ وَٱلۡأَمۡرُ يَوۡمَئِذٖ لِّلَّهِ ١٩
14. dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka
15. Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan
16. Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu
17. Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu
18. Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu
19. (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah

6.      Ayat Kelima
إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ٥
“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”
Abu Ja’far berkata: Ta’wil (tafsir) firman Allah (إِيَّاكَ نَعۡبُدُ) adalah bagi (kepada)-Mu ya Allah kami tunduk, menghinakan dan merendahkan diri, menetapkan bagi-Mu (sifat)rububiyah ya Rabb kami, bukan kepada selain-Mu. Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu berkata: Malaikat Jibril berkata kepada Nabi Muhammad: Ya Muhammad, katakanlah (إِيَّاكَ نَعۡبُدُ)kepada-Mu kami bertauhid, takut dan berharap wahai Rabb kami, bukan kepada selain-Mu. Sedangkan maksud firman Allah(وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ) adalah kepada-Mu ya Rabb kami memohon pertolongan atas ibadah kami kepada-Mu, ketaatan kami untuk-Mu di dalam seluruh urusan kami, bukan kepada selain-Mu. Ketika ada orang yang ingkar (kafir) kepada-Mu, lalu dia meminta pertolongan dalam berbagai urusannya kepada yang disembahnya selain-Mu (berhala), kami tetap memohon pertolongan-Mu dalam seluruh urusan kami, meng-ikhlaskan ibadah kepada-Mu.[7]
Dalam ayat mulia ini mengandung pengertian yang sangat dalam dan menyeluruh. Karena, di dalam ayat ini tertuang ikar atau janji seorang hamba kepada Tuhannya (Allah SWT). Seorang hamba Allah di dalam shalatnya seolah-olah ia mengatakan bahwa: Ya Allah, yang aku ibadati, yang aku sembah, dan hanya kepada Engkaulah aku memohon pertolongan (perlindungan).
Sebagaimana ahli tafsir berpendapat bahwa meminta pertolongan cukup dengan taufik Allah dalam ibadah.

7.      Ayat Keenam
ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦
“Tunjukilah kami jalan yang lurus”
Tafsir Al Jalalain,ٱهۡدِنَا yang berarti tunjukkanlah kami,ٱلصِّرَٰ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ jalan yang lurus. Pegertian jalan yang lurus dijelaskan dengan kata pengganti dalam kalimat sesudahnya yang artinya jalan orang-orang yang kau nikmat pada mereka dengan hidayah bukan jalan orang-orang yang sifat dimurkai, yaitu orang-orang yahudi, dan bukan pula jalan orang yang sesat, yaitu orang-orang nasrani.
Jalan yang lurus adalah apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW dari Tuhannya dengan tidak menambah, mengurangi, dan memalingkannya. Dan yang dimaksud demikian itu adalah jalan yang benar, jalan yang menjadi kebutuhan seorang hamba untuk selamat dari azzab dan siksa, jalan yang dapat membawa manusia kepada kebahagiaan, ketenangan jiwa baik di dunia dan di akhirat.
Sekiranya manusia memiliki banyak sifat tidak baik itu butuh shirathal mustaqim, hendaklah manusia itu taat, patuh kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menjalankan apa yang diperintahkan-Nya secara maksimal dan berusaha menjauhkan diri dari apa yang dilarang-Nya secara maksimal pula.

8.      Ayat Ketujuh
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧
“(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka”,ayat ini menyebutkan jalan yang baik, jalan yang lurus, jalan yang telah Allah anugerahkan kepada hamba-Nya, yaitu jalan yang telah ditempuh para Nabi, Siddiqin, Syuhada dan Shalihin. Sebagian ahli tafsir berkata (orang-orang yang Engkau anugerahi nikmat kepada mereka),mereka adalah orang-orang mukmin dari umat Muhammad SAW, atau selainnya dari umat-umat sebelumnya.[8]
غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ memiliki arti bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.Maksud dari “orang-orang yang dimurkai” adalah orang-orang yahudi yang berpaling dari petunjuk taurat.Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran kemudian berpaling darinya dari agama apapun berasalnya dan kapanpun hidupnya.
Maksud dari “mereka yang sesat” adalah orang-oranng nasrani yang yidak berpegang teguh dengan ajarn-ajaran injil yang benar. Mereka adalah orang-orang yang lalai dari kebenaran dan mereka merasa nyaman di dalam kesesatan, atau orang-orang yang berpegang pada kebenaran tetapi mereka tida bisa mendapatkan petunjuk denganya, dari agama apapun berasalnya dan kapanpun hidupnya.



[1]Hasan Al Banna, kitIab Muqaddimah Ilmu Tafsir, (Yogyakarta: Santusta, 2008), hlm. 58
[2] Bachtiar Nasir, Tadabbur Al-Qur’an: Panduan hidup Bersama Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2003), hlm, 5
[3] Ibid, hlm.5
[4] Ibid, hlm. 7
[5] Ibid, hlm. 7
[6] Hasan Al Banna, kitab muqaddimah Ilmu tafsir, (Yogyakarta: Santusta, 2008), hlm.68
[7] H. Darwis Abu Ubaidah, Tafsir Al-Asas, (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kausar, 2012), hlm. 43
[8] Hasan Al Bana, kitab muqaddimah Ilmu tafsir, (Yogyakarta: Santusta, 2008), hlm.81

Tidak ada komentar:

Posting Komentar